Welcome

Selamat datang, semoga
bisa memetik hikma dari
berbagai isi Blog ini......
Jangan lupa tinggalkan
Pesan atau komentar....
Makasih..Salam Cahaya..

Kelak nanti...

Engkaupun terus melangkah dalam irama kehidupan, senandungkan asa dalam rangkaian do'a, berharap segalanya terbayar sempurna.. kelak nanti engkau akan mengetahui betapa segala warna hidup adalah goresan tanganmu sendiri, namun saat ini engkau masih buta..



ketika aku menerima berita tentang bencana disebuah kampung, yang terbesit dalam pikiranku adalah untaian do'a dari mereka-mereka yang menjadi korban bencana itu.. doa-doa mereka tidaklah jelas bahkan lebih banyak tangisan dan air mata ketimbang apa yang mereka inginkan saat ini untuk sebuah arti umum dari do'a yang biasa dilantungkan kebanyakan orang... namun belum usai do'a mereka terangkai menyiratkan arti, sudah datang dari segala arah akan berita pertolongan, dan ketika pertolongan itu tiba, semuanya melebih dari apa yang sebenarya mereka inginkan dalam wujud sebuah materi. Ini adalah pertolongan bagi orang=orang yang teraniaya...

namun aku melhat dirimu menciptakan sendiri penderitaanmu, lalu engkau rangkaikan dalam do'a-do'amu namun masa berganti waktu tiada satupun do'a itu terkabulkan.. engkau mulai ragu akan makna "Doa'-do'a orang yang sabar akan di kabulkan".. lantaran engkau mengitung deretan waktu sebagai sebuah satuan kesabaran yang engkau tempuh namun pertolongan tiada datang...

Kesabaran dalam hitungan waktu yang engkau tetapkan, kini menjadi suatu sebab derita, engkaupun merumuskan dirimu sebagai orang yang teraniaya.. namun do"amu belum juga terkabulkan, sehingga engkau mulai ragu akan makna "Doa' orang yang teraniaya akan mudah dikabulkan"

engkaupun berkunjug ke ulama untuk menceritakan segala eposode hidupmu berwarnakan berbagai lantunan Do'a yang tiada berepisode. Ulama seketika tertegun karena pengalaman pahit hidupmu sepertinya dia tidak pernah mengalaminya, akan tetapi lantaran malu jika tidak memberikan solusi, maka diapun menasihatimu dengan nasehat yang klasik "Bersabarlah, jika engkau tidak mendapatkannya di dunia, maka kelak diakhirat engkau pasti akan mendapatkannya" inilah gambaran umum nasihat para ulama yang menurut saya sebagai kategori jawaban yang menyesatkan.. karena yang egkau minta adalah kebahagiaan dunia bukan kebahagiaan akhirat..

Engkau masih mencoba untuk bersabar.....
dan ketika engkau mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan orang=orang yang mengaku mengenal kebenaran, mereka mengatakan ; segala penderitaan tidak terlepas dari karma pada kehidupan masa lalumu, dan sekarang saatnya engkau harus menebusnya.... Engkau memilih diam.. karena malas untuk menguraikan betapa panjang waktu yang engkau lalui dalam menebus segala karma hidupmu... membangun dirimu dalam kesadaran, mengiringi segala nestapamu dengan keikhlasan... menebar kebaikan selagi mampu untuk engkau lakukan.. namun semuanya mereka tiada pahami... ucapan mereka tidak lebih dari sebatas teori tanpa jalan keluar bagimu...

Kelak nanti engkau akan mengetahui...
mengapa hembusan angin mampu membawa kumpulan awan untuk diuraikan menjadi hujan..mengapa setiap tanya dalam do'mu tiada pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan..

Kelak nanti...
Jika engkau telah hening dalam kebeningan...
menyisikan belengu mimpi yang selama ini engkau pikul..
lalu datang dalam keselarasan yang sejati sebagai dirimu..
engkau akan memahami... hidup sesungguhnya adalah sebuah keselarasan...

maka selaraskanlah dirimu... dan simpanlah dibawah kakimu segala mimpi yang selama ini membelenggumu.. lalu datanglah dalam kelembutan..
Engkau selama ini datang dalam kelelahan berselimutkan nafsu yang engkau sulam sebagai kemuliaan untuk dirangkai dalam do'a mu disetiap malam... engkau selama ini keliru, bahwa untuk menghdap sang Raja engkau tidak perlu membawa apapun permintaanmu karena sang raja sudah paham apa yang engkau inginkan... Engkau juga tidak sadar, sang raja sangat menginginkan kehadiranmu, namun engkau terus mengeluh karena setiap kedatanganmu ke istanya, engkau hanya mendapatkan gerbang yang terkunci dan gelap lalu engkau menghakimi dirimu dengan prasangka bahwa sang raja tidak lagi peduli dengan dirimu...

kelak nanti...
Engkau akan mengetahui... bahwa kedatanganmu dalam keselarasan dengan dirimu yang sejati adalah kerinduang sang raja yang sesungguhnya... olehnya heningkanlah dirimu dalam kebeningan yang sejati.. lalu temukan keselarasan itu dalam kelembutan... pakailah baju kelembutan itu maka engkau akan memiliki sifat rahman dan rahim.. dan sang rajapun tidak akan rela untuk engkau tinggalkan manakala engkau berkunjung ke istanya... dan akhirnya istana pun akan dia berikan kepadamu...



Selengkapnya...

Surga dalam makna tekstual

Hari ini aku memahat sebuah prasasti, seirama dentuman api neraka aku melukiskan gambaran jiwa yang berkelana sepanjang alam. jiwa yang rindu akan nyanyian suci namun tidak mampu membedakan, bahkan untuk sekedar terjaga dari kemabukan, jiwa ini sudah tak mampu

Pejamkanlah matamu sobat jika ingin kau rasakan jedah sebuah irama bathin.. tariklah nafas kehidupan... dalam dan semakin dalam... rasakan setiap alirannya.. mungkin penat bagimu untuk menerjemahkannya.. namun biarlah semua berjalan apa adanya, engkau cukup melakoni dalam kesadaran.


Sadar akan kesadaran adalah sebuah awal dari kesadaran hidup, karena banyak yang tidak sadar akan makna kesadaran, mereka hidup seperti sebatang kayu kering yang dihempas badai kehidupan, tidak memiliki sedikitpun kemampuan untuk menguasai diri apalagi mengarahkan makna hidup, mereka menyebutnya kepasrahan, akan tetapi menurutku lebih tepat jika dikatakan kebutaan bahkan juga kebodohan. Memahami hidup hanya bersandar pada konsep tekstual, atau sebatas ocehan mimbar yang tiada berenergi, sehingga hanya sanggup melekat seumur tetesan embun.

Aku hanya menyuarakan sebuah elegi yag telah usang.. hamparan permadani disudut malam telah menebal oleh hinggapan debu kejenuhan, tiada yang abadi apapun yang terpandang saat ini... semunya karena ilusi adanya, namun begitu banyak (termasuk diriku) mengikatkan harapan dan ketakutan disana... itu membuatku sadar akan kelemahanku, olehnya aku berpaling untuk menyelaraskan langkah jiwaku dengan langkah Tuhan.. karena surga sudah begitu usang buat diriku yang tumbuh dipusaran teknologi kehidupan.

Bagaimana mungkin aku disurga!? jika aku tidak bisa menemukan hal-hal yang sesuai peradaban di jamanku? jangankan untuk sebuah device yang canggih, disurga, kalkulator usang pun mungkin tidak ditemukan, padahal aku butuh untuk menghitung bidadari pemuas birahiku yang jumlahnya puluhan ribu .

Aku sadar karena surga hanyalah deretan bukit, hutan buah, diselingi sungai susu dan sungai madu serta  bangunan yang berisikan wanita-wanita yang siap untuk didekap, Surga tidak lebih dari sebuah tempat pelampiasan hawa nafsu, surga tidak lebih dari sebuah prostitusi yang termewah dan gratis buat mereka-mereka yang menyenangi Tuhannya dengan amalan penuh pamrih, karena seseorang yang mementingkan sexualitas tidak membutuhkan apapun selain kepuasan hawa nafsu birahinya, setelah kelelahan dari aktifitas sex, Ia kembali disuguhkan minuman susu dan buah untuk pemulihan energi tubuhnya lalu kembali melakoni adegan sex dengan bidadari nomor antrian selanjutnya.


hampir tidak ada kebahagiaan sedikitpun buat seorang wanita yang masuk surga, seorang istri yang menjadi ratu disurga tidak lebih dari seorang germo dalam memanage aktifitas birahi suaminya dalam beraktifitas sex, dia harus adil dalam membagi jatah sexualitas seluruh bidadari yang ada dalam kekuasaan suaminya.

Lalu bagaimana dengan memandang wajah Tuhan di surga?.. oh tidak.. mereka-mereka yang tenggelam dalam pergumulan birahi yang begitu nikmat tidak akan sadar dan peduli terhadap kehadiran apapun disekitarnya, mereka lebih memilih ber-sex-ria dari pada menunggu kedatangan Tuhan, kalaupun ada kabar tentang kedatangan Tuhan, maka mereka akan meminta supaya Tuhan menunggu sebenatar.. sebentar saja.. karena lagi tanggung.. lagi enak nih.. dan mereka tau Tuhan akan menunggu karena Tuhan Maha sabar.

Apakah ada kejenuhan? kejenuhan ada dan sementara, itulah sifat dasar manusia, mereka akan mengisi waktu kejenuhan yang sangat sedikit itu dengan saling berkenalan dengan tetangga disurga. dan ada hal yang lucu karena penempatan kapling di surga adalah sesuai akumulasi pahala, bukan berdasarkan jaman kehidupan didunia, sehingga saya dapat memaklumi akan kejadian yang aneh, dimana seseorang yang hidup di abad 21 berdiskusi dan melakukan kesepakatan dengan tetangganya disurga yang hidup didunia pada abad 12 sebelum masehi, mereka berdua melakukan kesepakatan untuk mengelilingi surga, olehnya masing-masingpun memohon kepada Tuhan akan sebuah kendaraan untuk dipergunakan, yang hidup diabad 21 meminta sebuah mobil double gardan dengan fasilitas tercanggih sedangkan temannya meminta seekor kuda yang tangguh. begitu dikabulkan oleh Tuhan, maka yang meminta kuda dipenuhi dengan keheranan akan kehadiran mobil offroad yang canggih atas permintaan temannya, bahkan meminta penjelasan atas kehadiran mobil  tersebut dan minta diajarkan cara mengendarai, semua itu karena tidak ada dijamannya. Maka tidak menutup kemungkinan di surga akan ada kursus penyelarasan abad kehidupan bagi mereke yang hidup di jaman purba ketika dibumi.

Lalu surga itu apa? dan dimana?...
Tuhan telah berbisik kepadaku, dan Dia akan berbisik kepadamu juga tentang surga yang sebenarnya manakala dirimu mau membuka diri dan membuang segala kebodohan dirimu, kebodohan dalam memahami segala sesuatu berdasarkan nalar dan logika yang tercipta karena pengertian keilmuan sebatas tekstual dari berbagai kitab. engkau harus membunuh logika picikmu sampai menemukan keheningan yang damai.. disanalah Tuhan akan berbisik.. oh.. tidak... bisikan itu telah lama ada dan akan terus mengalir lewat gemah dan alirannya.. engkau hanya tak mau mendengarkannya lantaran tidak mau menuju ketempat itu....

Engkau terlalu sombong untuk mengakui bahawa engkau adalah makhluk lemah yang masih dungu.. bahkan sampai diujung kematianmu.. engkau tidak menyadarinya...
Selengkapnya...

jiwa menggapai surga atau penyatuan?

Hendaklah diri memaknai secara mendalam akan makna dari kematian, lantaran disanalah dia memahami jiwanya, lalu mengantarnya untuk mengerti akan hakikat diri yang sesungguhnya..
Hendaklah diri mengerti akan makna hidup, dimana hidup bukanlah sebatas perhitungan matematis antara pahala dan dosa lalu bermuara pada nikmat atau siksaan..
Hendaklah diri menyadari akan segala kekurangan dan selalu mau belajar dalam hidup ini, maka Tuhan akan membimbing jiwa-jiwa yang mau mencari kebenaran sejati..

Banyak manusia menganalogika sebuah kematian sebagai akhir dari segalanya menyangkut hidup, lalu menjadikan surga dan neraka sebagai arah tujuan hidup, ini adalah gambaran dari mereka yang hidup diselimuti dengan pamrih, apapun yang mereka lakukan semunya dikonversikan menjadi sebuah nilai yang akan ditukar dengan surga dan segala kenikmatannya.




kematian bukanlah akhir dari segalanya bagi mereka yang belum menyempurnakan jiwanya, kematian hanyalah sebuah gerbang untuk terlahir kembali ke bumi untuk menebus segala utang kehidupan karena sesungguhnya apapun yang diperbuat akan menuai balasannya.


Kematian adalah gerbang buat jiwa yang telah berjuang dengan sempurna dalam mensucikan dirinya, karena segala yang kembali kepada yang maha suci haruslah disucikan. olehnya untuk jiwa-jiwa yang telah mensucikan diri, bagi mereka tidak tepat jika ada ucapan" Turut berduka cita" atas kepergian mereka, karena kematian bukan sebuah duka, kematian juga bukan sebuah musiba, bagi mereka kematian adalah gerbang cakrawala penyatuan dan pembuktian bahwa segala dari Allah dan akan kembali kepada Allah, dan mereka akan bersama Allah dalam kebahagiaan yang abadi.

Awalnya jiwa-jiwa ini akan mengerti tanda-tanda kematian mereka mulai dari 40 hari, 20 hari, 7 hari lagi sampai pada sesaat lagi. Allah berfirman di dalam Al-Quran surat al-baqarah ayat 180 :

Diwajibkan atas kamu apabila seorang diantara kamu kedatangan (melihat atau membaca) tanda-tanda kematian maka berwasiatlah kepada bapak, ibu dan saudara-saudara dekatnya, jika ia meninggalkan harta atau peninggalan yang banyak. Ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa”.

Disaat kematian akan datang jiwa-jiwa ini memandang dalam kedamaian akan wajah Rabb-nya, menyelimuti mereka lalu membawa mereka pada singgasana ketuhanan yang indah nan tiada banding, jiwa jiwa ini akan disambut sebagai mana dalam al-Quran surat Al-Fajt 89 : 27-30 allah berfirman ;

"Wahai Jiwa yang tenang Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku Dan masuklah ke dalam Nurul Jannah-Ku"

Lalu kemanakah episode alam kubur yang berisikan nikmat atau siksa kubur?
Alam kubur adalah sebuah kiasan akan gambaran kehidupan jiwa setelah kematian, dia bukanlah ajang penyiksaan fisik seperti yang dipahami masyarakat awam selama ini, karena setelah jiwa terpisah dari jasad, maka jasad tidak akan berinteraksi apapun didalam tanah. Makna alam kubur adalah mencerminkan respon jiwa setelah kematian, dimana jiwa sangat menderita akibat keterikatan dengan hal duniawi yang begitu tinggi, jiwa-jiwa ini sangat merasakan bagaimana isak tangis keluarga mereka yang di tinggal pergi tetapi tidak mampu merespon apapun, jiwa ini juga semakin menderita dengan segala materi yang ditinggalkan serta berbagai rencana hidup yang belum tercapai, jiwa ini juga berulang kali mencoba kembali kejasad yang terbujur kaku namun tidak bisa menyatu seperti sediakala, jiwa ini berontak bahkan menjerit akan tetapi perbedaan dimensi maka komunikasi dengan alam fisik tidak mampu terjalin, maka semakin menderitalah jiwa-jiwa ini.

Awalnya jiwa tidak mau menerima kematiannya dengan mencoba kembali kejasadnya, dia bahkan tidak mampu menerima kehadiran Rabb-nya karena ketidaktahuan akibat selama didunia dia tidak mengenal-Nya, pengenalan-Nya hanya sebatas asma sifat dan af-al tapi tidak mengenal Zat-Nya. lalu diapun terpaksa menerima kematiannya ketika melihat jasadnya terkubur. selanjutnya jika dia adalah golongan yang tingkat spiritual syariatnya baik, maka didalam pikirannya adalah bagaimana dia akan menghadapi pertanyaan malaikat, lalu berujung pada nikmat kubur dan surga, semuanya itu akan terwujud sesuai apa yang dia pikirkan, namun apapun itu semuanya adalah ilusi semata karena hakikat surga yang sebenarnya adalah disisi Tuhan.

Jika jiwa-jiwa ini adalah golongan yang suka bermaksiat, maka dia akan menghadapi siksaan kubur dan berujung pada neraka, semuanya tercipta dari alam pikirnya sendiri, karena hakekat dari neraka adalah sebuah penebusan kesalahan hidup yang harus dilakoni kembali ke dunia. Jika jiwa-jiwa ini memiliki sedikit saja kesadaran, maka mereka akan terbebas dari siksaan kubur yang tercipta dari pikiran mereka, kesadaran yang saya maksud adalah ; Sadar kalau saat itu mereka bukanlah jasad, tetapi jiwa, olehnya tidak akan ada penderitaan yang bersifat fisik seperti  ; sakit, kelaparan, rasa kantuk bahkan kematian tidak ada lagi karena meraka sudah mati, dan mati adalah dimensi jasad, bukan jiwa, jiwa selamanya akan abadi.

Ketika jiwa-jiwa ini terperangkap di alam ruh dan tidak menemukan jalan untuk menembus singgasana ketuhanan (ilahi Rajiun) atau menembus rahim untuk terlahir kembali, maka jiwa-jiwa ini akan berkeliaran di alam raya tanpa jasad sampai ribuan bahkan jutaan tahun dan sesekali menampakan diri (penampakan). kadang jiwa-jiwa ini melalui seseorang yang ahli dapat dipanggil untuk melebur pada jasad seseorang lalu diajak untuk berkomunikasi.

Sedangkan bagi jiwa-jiwa yang mengalami kematian dalam tragedi dramatis, seperti kecelakaan pesawat atau kecelakaan lalulintas cenderung tidak mau menerima kematiannya, sehingga merelay kembali kehidupannya sebelum kematian, mereka membayangkan bagaimana di rumah bersama keluarga, diantar di airport, lalu menikmati penerbangannya, dan ketika sampai pada episode kecelakaan, relay kehidupan di putar ulang dan terus menerus sampai jutaan kali, relay kehidupan ini begitu nyata dan hidup dan mereka berada didalamnya seolah-olah menjalani kehidupan seperti biasa. Mereka hanya akan keluar dari perangkap alam pikir mereka manakala terbangun kesadaran sehingga mau menerima kematiannya, hal-hal yang dapat membangun kesadaran adalah bisa berupa kiriman do'a-do'a dari keluarga dan kerebat atau juga dibutuhkan seseorang yang mampu menembus dimensi ruh dan menyadarkan mereka secara langsung dengan kontak energi ruh.
Dan ketika mereka menerima kematiannya, maka saat itu akan datang kesempatan untuk menembus singgasana ketuhanan, dan semuanya itu tergantung dari kematangan jiwa selama hidup di dunia, apakah dia adalah golongan orang-orang yang mengenal Allah dengan sempurna? (Ma'rifatullah)

Adalah sesuatu yang cukup bijak, jika akhirnya jiwa-jiwa ini dikembalikan ke dunia melalui kelahiran kembali untuk menebus segala utang kehidupan, akan tetapi mampukah jiwa-jiwa ini memilih rahim? karena ada tiga peluang untuk menuju dimensi fisik yakni; terlahir sebagai manusia, binatang dan tumbuhan.
Jika terlahir sebagai manusia, apakah jiwa-jiwa ini mampu memilih untuk dilahirkan pada rahim dari golongan keluarga yang sakinah? yakni golongan orang-orang yang beriman dan beramal sholeha, yakni mengenal Allah dengan sebenar-benarnya dan mengerti akan makna dari hidup ini?

Selamat merenungi.. sampai jumpa di episode tentang Surga dan neraka yang akan datang, Ada teman saya berpendapat, surga itu terlalu tradisional dan saya setuju akan hal itu, surga hanya cocok bagi umat jaman dahulu yang hidup di erah abad pertanian dan kurang cocok buat generasi yang hidup di jaman industri, apalagi di jaman milenium ini, semuanya lantaran surga hanya sebatas menjanjikan istana, sungai, wanita dan buah-buahan, tidak ada fasilitas internet, atau teknologi modern. nah semunya ini manakala kita memahami segala sesuatu secara textual dan bukan secara hakikat.... 

Ok .. sobat sejatiku.. sampai jumpa pada postingan yang akan datang tentang hakikat surga dan neraka.. selamat merenung dan mohon maaf baru kembali posting di blog ini, juga maaf sekali lagi karena semua artikel ini sudah di kunci untuk copy paste karena begitu saya menelusuri ternyata ada puluhan web dan blog yang meng-copy  artikel di blog ini lalu di paste pada domain mereka  tanpa menyebutkan sumbernya 
::..Wassalam
Selengkapnya...

4 Unsur dalam penciptaan makhluk hidup

Mengalir dalam rasa dibenak terdalam.. melambungkan hasrat untuk menguntai kalimat pada sebuah janji yang belum di tepati, semoga menggapai hakiki dalam makna yang sejati.. adalah kebenaran di atas kebenaran..

Aku uraikan kalimat dipenghujung malam sebagai janji tunai bakti buat sobat yang pernah menyuarakan sabda dalam tanya akan makna empat unsur dalam kejadian manusia.. Aku hanyalah diri dalam bingkai keterbatasan semoga menari dalam irama semesta agar alam menjadi syair untuk ku torehkan dalam huruf demi huruf.



Mungkin lama blog ini tidak terupdate, dan salah satu penyebabnya adalah email yang saya gunakan sempat di hacker, namun alhamdulillah bisa saya dapat kembali..

Sobat sejatiku..
Memahami empat unsur pada sebuah penciptaan, adalah sebuah misteri yang teramat panjang dan luas, namun saya mencoba memaknai dalam tulisan kali ini dan jika ada kekurangan bagi para pembaca yang lebih memahami, maka silahkan dikoreksi.

Awal mula alam semesta dalam Al-qur'an dijelaskan :
"Dialah pencipta langit dan bumi." (Al Qur'an, 6:101)

sesungguhnya penciptaan alam semesta yang digambarkan oleh Al-Qur'an akhirnya sesuai dengan hasil penemuan pakar astronot NASA sekitar tahun 1992 yang  berhasil menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big lactose intolerant (Big Bang). Awal adalah ketiadaan kemudian terciptalah yang namanya ; Materi, Energi dan Waktu. dan Al-Quran lebih jauh menjelaskan :

"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (Al Qur'an, 21:30)

dari ayat inilah kita mulai kajian kita tentang empat unsur sebagai pembentuk segala makhluk hidup, dan semuanya di mulai dengan air.

Air adalah cikal bakal penciptaan segala kehidupan dan makhluk hidup, demikian Al-Qur'an menjelaskan. Dalam evolusi penciptaan, asal mula kehidupan adalah Air, dari air maka terciptalah makhluk hidup bersel satu, selanjutnya terus berevolusi membentuk berbagai jenis makhluk hidup namun masih sebatas tetumbuhan baik di darat maupun di lautan. dan olehnya tetumbuhan ini merupakan tingkatan hidup pertama dan lebih didominasi oleh unsur air. dan akhirnya dari tetumbuhan ini terus berevolusi seirama meleburnya unsur-unsur lainya seperti tanah, api dan udara.

Tanah dan Api adalah unsur selanjutnya sebagai pembentuk makhluk hidup, dan makhluk hidup yang memiliki dominasi kedua unsur ini adalah binatang-binatang melata, baik di darat maupun di laut. Ini adalah tingkat kehidupan ke dua

Tanah, api dan Udara  adalah unsur selanjutnya yang membentuk kehidupan tingkat ke tiga, kaloborasi ketiga unsur ini manghasilkan penciptaan berupa binatang jenis unggas dan hewa-hewan air.

Tanah, Air, Api dan Udara adalah tingkat kehidupan ke empat dimana manusia termasuk didalamnya selain hewan berkaki empat.

Total species dari gabungan berbagai materi empat unsur tersebut telah melahirkan sekitar 840 juta species.
Lantas bagaimana memaknai semuanya ini..?

Mari memulai dari awal... Awal adalah satu adanya, lantas terjadilah penciptaan yang berasal dari satu titik yang membentuk segala materi, energi dan waktu, dari materi terbentuklah unsur pendukung kehidupan dan akhirnya melahirkan makhluk hidup. dinamakan makhluk hidup karena sudah terptri dengan zat kehidupan yang biasa dikenal dengan Ruh. >

Ruh selalu menyesuaikan diri dengan media yang ditempati, dan perjalanan panjang pada makna penciptaan makhluk hidup sampai kepada manusia adalah puncak dari kesempurnaan penciptaan, karena disinilah ruh diberi kesempatan untuk memahami siapa dirinya sesungguhnya. Pada dimensi makhluk lainnya ruh tidak mempunyai kesempatan dalam membebaskan dirinya lantaran keterbatasan yang dalam dari segi interaksi akal dan nurani untuk mencari kebenaran.

Perjalanan panjang dari ruh dalam menempati berbaga media jasmani akan melahirkan berbagai kondisi psikolog dan karakter jiwa, bahkan pada media manusia sesungguhnya masih amat kuat interaksi empat unsur yang cenderung melahirkan ikatan materi, karena empat unsur tersebut berasal dari materi. disinilah dibutuhkn perjuangan untuk melepaskan keterikatan menuju sumber ruh yang sesungguhnya.

Interaksi empat unsur tersebut meliputi :
ketamakan dan keserakahan yang umumnya lahir dari unsur tanah.
Keinginan yang kuat akan sesuatu yang umumnya lahir  dari unsur air.
Kesombongan adalah interaksi dari unsur udara.
Nafsu dan amarah adalah interaksi yang kuat dari unsur api.

Jika ruh mampu membebaskan diri dari keempat unsur tersebut, maka ruh menemukan jati diri yang sesungguhnya sehingga dapat kembali kepada asalnya yang abadi (innalillahi wainna ilahiraji'un), dan jika ruh tidak mampu, maka disinilh terjadi lingkaran hidup dimana ruh kembali menempati media yang sama atau  lebih rendah. proses pembebasan diri dalam spiritual dikenal dengan pencerahan sejati atau makrifatullah.


demikian untuk direnungkan..
Wassalam..


Selengkapnya...

Sebuah jawabankah ini.?

Adalah sebait kata tanya dari seorang sahabat melalui blog ini.
Adalah harapan tulus untuk sebuah paparan tentang Alfatihah.
Adalah ketidakmampuan kami untuk memaparkan sedetailnya.
Sesunguhnya ayat-ayat Tuhan adalah sebuah siratan ilmu..
Ilmu yang tiada terbatas akan kandungan maknanya.

Bismillah... Biarlah Tuhan yang menjabarkan ini...

dalam setiap tarikan nafas kehidupan..
dalam setiap detak nadi dan jantung..
dalam setiap frekwensi suara yang tersentuh telinga..
dalam setiap pancaran cahaya yang membiaskan obyek bagi mata..
dan juga.. dalam setiap alunan getar lidah dan bibir dalam menyulam kalimat.. semuanya adalah indikator interaksi antara yang hidup dan yang Maha Hidup, lalu menyelaras dalam tatanan antara yang hidup dengan yang hidup (manusia dan lingkungan sekitarnya)..

Alam semesta ini, tersulam indah makna hakikatnya dalam seluruh kitab kebenaran di bumi ini. Dan makna dari seluruh kitab kebenaran terpahat dalam kitab Al-qur'an. Kitab yang tiada keraguan sedikitpun.  Lalu makna Al-Qur'an tersaji dalam sebuah ummul Qur'an yakni Surrah Alfatihah, sebuah surrah dengan tujuh ayat yang terletak di awal kitab Al-Qur'an yang di mulai dengan huruf BA' dan di akhiri dengan Huruf NUN; dimana Ba' adalah Baitullah dan Nun adalah Nurullah. Di dalam Baitullah terdapat Cahaya Tuhan (dan diantara Cahaya dan Tuhan tiadalah bisa untuk dipisahkan).

Memahami alam semesta cukup dengan memahami Kitab kebenaran, dan memahami kitab kebenaran cukuplah dengan memahami Al-Qur'an, dan memahami Al-Qur'an cukuplah dengan memahami Al-Fatihah, dan memahami Al-Fatihah di mulai dengan memahami Baitullah yang tempatnya adalah di Qalbu yang ada dalam diri.

Awalnya engkau tidak memahami apa-apa dengan kata Biss, lalu disana ada Huruf Mim yang menyambung pada kata Allah dan jadilah :
                                               



Awalnya adalah engkau terpisah seperti terpisahnya titik yang berada di bawa huruf  BA', namun di penghujung ketika engkau memahami kebenaran dan melebur menjadi kebenaran, engkau berada didalam cawan huruf  Ba' dan Ba' telah menjadi Nun pada penghujung ayat  yakni :
                                                 

Tujuh Ayat didalah surrah Al-Fatihah adalah menggambarkan tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi, tujuh kali tawaf dan yang utama adalah tujuh hijab didalam diri yang menghalangi jiwamu untuk menemukan Zat Allah atau Nur Ilahi. apakah Nur Itu?  Inilah kandungan utama Kebenaran yang dijelaskan ayat demi ayat dalam surat Alfatihah :

1. Ketika engkau telah memahami dengan kesadaran yang hakiki tentang Baitullah yang ada didalam dirimu maka itulah hakekat huruf pertama pada ayat pertama(Ba'), sehinggah engkau disambungkan dengan huruf Mim yang bermaknah Ma'rifat (mengenal) dengan Allah Hurrahman Nirrahim ; Dialah yang ada didalam dirimu yang kedekatannya melebihi dekatnya urat lehermu, Dia lah Yang Maha pengasih Maha penyayang.


2. Jika egkau telah sadar, maka pujilah Dia dengan kesadaranmu, Dia lah yang meliputi sekaligus menguasai alam semesta. makna puji adalah bukan semata ungkapan kalimat asma ulhusnah tapi lebih dari itu, yakni engkau terbangun jiwamu dalam kesadaran ber-Tuhan. Olehnya engkau mengerti karena mengalami. Apapun lakon hidupmu semuanya bermaknah pujian kepada Tuhan.

3. Jiwa yang telah terbangun kesadaran, kini memasuki kesadaran lebih dalam lagi yakni kesadaran RASA, kesadaran rasa adalah mekar dari esensi cinta yang sesungguhnya, cinta adalah refleksi dari energi Kasih dan Sayang dari yang Maha Pengasih dan Maha penyayang. semuanya mengalir dari dalam dirimu..

4. Akhirnya engkau menyerahkan segala urusan hidupmu kepada-Nya lantaran sadar jika Dia sang penguasa dari segala kehidupanmu, termasuk hari-harimu yang kini dan yang akan datang juga pada hari penentuan akan segala amal perbuatan (hari pembalasan).

5. Rasa yang mengalir dalam cinta darimu kepada-Nya begitu juga sebaliknya adalah tahap yang engkau gapai ketika engkau telah memasrahkan segalanya kepada-Nya, aplikasi dari semuanya ini adalah sembah sujudmu hanyalah kepada-Nya. engkau menyembah-Nya karena cinta bukan lantaran ketakutan akan gambaran neraka dan siksa kubur. Sembahmu mengalir dalam setiap irama nafas juga detak nadimu.. engkau sadar dalam kesadaran.. olehnya apapun yang engkau lakukan engkau merasa bukanlah engkau yang melakukan, tetapi semuanya adalah Dia adanya. Segalanya karena pertolongan-Nya.



6. Dalam setiap irama hidup, engkau selalu memohon kepadanya agar senantiasa terbimibing dan menuju jalan yang benar. Pertolongan disini akan mengalir dalam segala ilmu dari semua pengetahuan yang ada, sehingga engkau menapak disetiap tapakan pengetahuan dan menuju kepada pengetahuan tentang keabadian. Dan engkau juga mengerti tentang jalan yang benar yakni kefanaan yang sejati, dimana dirimu telah hilang dari segala interaksi selain Dia. Selanjutnya menuju Dia dan melebur dalam Dia.. itulah Tauhid yang sesungguhnya.

7. Tauhid yang engkau harapkan adalah sebuah karunia yang telah Dia berikan kepada para kekasihnya yang terdahulu. dan engkau telah menjadi kekasih-Nya. engkau telah menemukan sebuah titik sejati dari makna kebenaran. Itulah makna huruf  Nun (nur) di pengujung ayat terakhir surrah Al-Fatihah.


Sahabatku..
Al-Fatiha adalah maknah dari kebenaran itu sendiri, jika engkau menemukan kesadaran dalam ber-Al-Fatihah maka engkau memahami segala rahasia alam semesta.

Disudut rasa yang terdalam, kupahat bait-bait mutiara agar engkau mau singgah untuk mengambil hikmahnya.. jika lautan telah kering akibat kelelahan dalam menyulam ilmu kebenaran, aku ingin berbaring diatas karang yang lagi gelisa lantaran jiwanya yang buta dari segala yang ada... biarlah aku menikmati  dalam rasaku semoga engkaupun memahami yang aku rasakan..

Tuhan.. Terimakasih Cintamu... I Love You..







Selengkapnya...

::: Narasi perjalanan menuju Tuhan :::
(Scr Narasi : Attar )
Luangkan waktu anda sejenak... Rilex dan tenang dalam damai lalu dengarkan alunan NARASI dibawah ini..... Pahami dengan hati dan Renungkan hikmahnya Semoga bermanfaat..........Tq.
.