Welcome

Selamat datang, semoga
bisa memetik hikma dari
berbagai isi Blog ini......
Jangan lupa tinggalkan
Pesan atau komentar....
Makasih..Salam Cahaya..

Reinkarnasi ( Bagian I )

Tulisan ini diangkat dari kajian Ust.Hussein Yusmani Al Fakir (portal metafisika indonesia) .. Selamat merenungi..


Sebagai tahapan yang harus dilalui wujud lahir, tingkatan wujud berikutnya akan berproses sesuai dengan rancangan wujud sebelumnya. Dengan jalan seperti ini muncullah ribuan perubahan. Dan tiap perubahan selalu lebih baik dari sebelumnya. Sadarilah selalu wujudmu saat ini karena jika kau berpikir tentang wujudmu di masa lalu, maka kau akan memisahkan dirimu dari Diri sejatimu. Inilah semua keadaan yang tetap yang kau saksikan dalam kematian. Lalu mengapa harus kaupalingkan mukamu dari kematian? Ketika tahapan kedua lebih baik dari tahapan pertama, maka matilah dengan senyum suka cita. Dan arahkan pandanganmu ke depan untuk menempati wujud baru yang lebih baik dari wujud sebelumnya. Sadarilah, dan jangan tergesa-gesa. Kau harus mati terlebih dulu sebelum memperbaiki diri. Laksana sang surya, hanya jika kau tenggelam di Barat, maka di Timur, kau akan menyaksikan wajahmu yang cerlang gemilang. ( Jalaluddin Rumi )

Reinkarnasi adalah proses daur ulang atau siklus kematian dan kehidupan kembali manusia. Kata “reinkarnasi” asalnya dari kata re+in+carnis. Kata Latin carnis berarti daging. Incarnis artinya mempunyai bentuk manusia. Jadi reinkarnasi adalah masuknya jiwa ke dalam tubuh yang baru. Jiwanya adalah jiwa yang sudah ada, tapi jasadnya baru. Maka, reinkarnasi juga dapat disebut kelahiran kembali (tumimbal lahir). Kondisi ini disebut pula sebagai migrasi jiwa. Artinya, jasad lama ditinggalkan alias mati, dan pada suatu kesempatan jiwa tersebut masuk ke dalam jasad baru, alias menjadi bayi kembali. Dalam bahasa Inggris reinkarnasi disebut sebagai reborn. Kepercayaan ini tumbuh dan berkembang khususnya di dunia timur dan barat. Bagi agama-agama di timur yang tumbuh di India, Tibet, Cina, Jepang, dan di Kepulauan Nusantara, kepercayaan terhadap reinkarnasi bukan lagi sebagai hal yang aneh.

Reinkarnasi malah bukan dipahami sebagai kepercayaan atau keimanan, tapi sebagai hukum alam seperti halnya hukum gravitasi. Hukum gravitasi memang tidak diceritakan di Al Quran, tapi bukan berarti tidak ada! Inilah perlunya manusia melakukan ijtihad dengan mengkaji kembali Al Quran. Iqra! Bagi umat Islam, kepercayaan ini masih menimbulkan pro dan kontra. Ada yang percaya namun ada juga yang tidak mempercayainya. Padahal kalau kita mau open mind dengan melihat fakta kehidupan dan dalil-dalil dalam Al Quran dan Hadist maka reinkarnasi sesungguhnya adalah suatu keniscayaan. Kebanyakan umat Islam yang tidak percaya reinkarnasi disandarkan pada beberapa alasan berikut :

1. Nabi Muhammad SAW “tidak pernah” mengajarkan reinkarnasi.
2. Reinkarnasi adalah ajaran agama-agama dunia timur sehingga banyak ulamaulama Islam yang “alergi” terhadap ajaran yang berasal dari agama lain.
3. Surga dan neraka adalah alam yang kekal. Oleh karena manusia masuk ke alam tersebut maka kelahiran kembali ke bumi adalah hal yang mustahil.
4. Jika reinkarnasi itu ada, kenapa banyak manusia tidak bisa mengingat kehidupan.

Insya Allah setelah membaca artikel ini, jawaban-jawaban terhadap alasan diatas bisa dijawab dengan akal yang jernih dan berdasarkan dalil Al Quran dan Al Hadist. Selain itu pula, saya berharap artikel di blog ini ini bisa memberikan kesegaran baru bagi umat Islam, para pencari Tuhan -dari agama manapun- dan juga mereka yang haus akan pengetahuan spiritual. Sebelum membaca dan memahami artikel ini ada baiknya kita menjadikan reinkarnasi sebagai ilmu pengetahuan layaknya seperti fisika, kimia, matematika dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar start awal berpikir kita netral. Tidak terdoktrin oleh sesat, benar, halal, haram dlsb.

Dalam istilah lain, kita harus memiliki “kesadaran pasif” sehingga riset atau penelitian terhadap teori ini dapat menghasilkan kesimpulan yang objektif. Apa itu kesadaran pasif? Apa pula bedanya dengan kesadaran aktif? Kesadaran pasif mengandung makna kesadaran atau pikiran yang netral (tidak memihak). Kesadaran aktif adalah lawan dari kesadaran pasif. Kesadaran aktif tidaklah bersifat netral karena ia telah memiliki persepsi sebelum menilai sesuatu. Jika anda mempelajari sesuatu namun telah memiliki persepsi sebelumnya maka hampir bisa dipastikan anda akan gagal memahaminya secara utuh. Nah, sama halnya dengan reinkarnasi. Jika sebelum membaca blog artikel blog ini namun kita sudah punya persepsi bahwa reinkarnasi itu adalah teori yang tidak layak dipercaya maka kita pun akan sulit menangkap penjelasan ini. Jadi, marilah kita berpikir secara objektif, bersihkan hati dari prasangka. Lepaskan dulu doktrin, dogma atau apapun yang selama ini membuat kita tertutup terhadap berbagai pengetahuan dari luar.

Terima dulu semua teori yang ada tanpa penolakan di alam pikiran kita. Setelah itu silahkan kaji semuanya dan ikutilah pendapat yang terbaik yaitu yang masuk akal dan diperkuat dengan dalil-dalil. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya.
Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (Q.S Az Zumar (39) : 18)
Jadi, janganlah kita terlalu taklid kepada ucapan orang, doktrin, dogma, atau pendapat umum yang berkembang. Kita harus mampu melakukan pencarian kebenaran secara mandiri. Karena tiap-tiap manusia bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Lihat firman Allah berikut ini :

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya. (Q.S Al Israa’ (17) :36)

Nah, ayat diatas telah jelas melarang kita taklid. Ikut sesuatu tanpa pengetahuan!. Sebab kalau kita sudah taklid maka akan menutup diri kita melihat kebenaran yang ada diluar. Meminjam istilah dalam film X-Files: The Truth is Out There. Ada kebenaran diluar sana! Kebenaran yang seperti apa? Kebenaran yang datangnya dari Allah berupa petunjuk yang diberikan kepada manusia yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran sejati. Dan kebenaran sejati hanya bisa didapat oleh mereka yang melakukan pengkajian yang sungguh-sungguh. Barang siapa yang bersungguh-sungguh pada jalan-Ku, maka akan Aku tunjukan jalan-jalan-Ku itu (Q.S Al Ankaabut (29) : 69)

SEJARAH REINKARNASI
Sejarah munculnya teori reinkarnasi sebenarnya telah ada sejak awal peradaban manusia baik dalam kebudayaan primitif hingga kebudayaan modern saat ini. Ajaran ini bisa dijumpai dalam berbagai literatur agama-agama kuno di pelbagai belahan dunia. Catatan terkini mengenai ajaran reinkarnasi ditemukan di mesir di sebuah naskah kuno yang menggambarkan jiwa manusia yang meninggalkan badan dalam wujud burung. Sejarah juga mencatat bahwa filosof terkemuka seperti Socrates, Phytagoras, Plato, Empedocles, Immanuel Kant, Jalaluddin Rumi, Mansyur Al Hallaj, Voltaire dan lain-lain juga mengakui adanya reinkarnasi.

Seorang sufi besar, Jalaluddin Rumi, dalam catatannya pernah mengatakan :
“Aku adalah satu jiwa namun memiliki tubuh ratusan ribu. Namun karena syariah, mulutku tak bisa banyak bicara. Aku telah melihat diriku dalam dua ribu tubuh, namun tak ada yang sebaik sekarang ini.“

Munculnya ajaran reinkarnasi bukanlah hanya sebatas kepercayaan belaka atau ajaran agama, melainkan disertai juga dengan fakta-fakta yang terungkap oleh sejumlah riset yang dilakukan para ilmuwan. Sebelum mengungkap beberapa fakta tesebut, kita akan terlebih dahulu mengupas reinkarnasi dari sudut pandang agama khususnya Islam. Seperti yang kita ketahui bersama, agama Budha dan Hindu memang secara terang benderang mengajarkan reinkarnasi pada pengikutnya. Lalu bagaimana dengan Islam? Apakah Nabi SAW juga mengabarkan ajaran ini pada umatnya? Nabi memang tidak terang-terangan mengajarkan reinkarnasi, karena tujuan Nabi SAW diutus oleh Allah adalah untuk memperbaiki ahlak bangsa Arab yang memang pada saat itu berahlak jahiliyah (bodoh). Hal ini ditegaskan dalam suatu Hadist riwayat Malik :

“Tidaklah aku di utus melainkan untuk menyempurnakan ahlak”.

Tentu bodoh yang dimaksud bukanlah bodoh secara intelektual karena peradaban masyarakat Arab pada pra Islam sangatlah maju. Fakta sejarah membuktikan bahwa bangsa Arab pada masa tersebut adalah bangsa yang cerdas, unggul dan berilmu. Justru dengan keunggulan (superioritas) tersebut mereka menjadi sombong dan selalu merendahkan bangsa non Arab dengan sebutan ‘ajam yang bermakna gagu yaitu mereka yang tidak mengerti dan tidak bisa berbicara dalam bahasa Arab. Kesusastraan Arab pra Islam pun demikian tinggi. Para penyair pada masa itu bisa diibaratkan ilmuwan jenius pada masa sekarang. Tidaklah heran jika Al Quran menantang mereka dalam surah Yunus (10) : 38 agar mendatangkan surah yang sepadan dengan Al Quran. Tentu saja tantangan Quran ini tidak ditujukan untuk bangsa yang lemah sebab jika Al Quran menantang bangsa yang lemah tentu tidak masuk akal. Contoh moral buruk bangsa Arab yang lain adalah menomorsatukan anak laki-laki dibanding perempuan. Bahkan mereka tidak segan mengubur anaknya sendiri jika yang lahir adalah anak perempuan.

Mereka juga membuat sesembahan berupa patung/berhala (paganisme) dengan meyakini patung-patung itu adalah tuhan mereka yang telah memberikan kejayaan pada bangsa Arab. Perbudakan juga menjadi budaya amoral bangsa Arab yang menunjukan ketidaksamaan derajat manusia dimuka bumi. Belum lagi peperangan antar suku. Bahkan membunuh dan memperkosa adalah hal yang sah-sah saja dilakukan asal bukan terhadap sukunya sendiri. Dengan gaya hidup seperi itu, mereka berfoya-foya hidup di dunia karena tidak mempercayai adanya kehidupan akherat. Bagi mereka, hidup hanyalah sekali di dunia ini saja dan setelah itu mati alias tidak ada kehidupan lagi. Sikap mereka ini telah direkam secara jelas dalam Al Quran :

Dan mereka berkata : kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan didunia saja,kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa. (Q.S Al Jaatsyiah (45) : 24)

Tidak ada kematian selain kematian didunia ini. Dan kami sekali-kali tidak akan dibangkitkan. (Q.S Ad Dukhan (44) : 35)

Kehidupam kita itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup, dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi.(Q.S Al Mu’minuun (23) : 37)

Jelaslah sudah bahwa fokus dakwah Nabi SAW adalah untuk membangun ahlak umat dengan menumbuhkembangkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Tauhid) dan adanya hari akherat. Dengan fokus pada pembinaan ahlak inilah tentunya reinkarnasi tidak dijelaskan oleh nabi secara “telanjang” melainkan dibungkus secara rapi. Inilah pengetahuan yang terjilbab (tertutup). Hanya orang tertentu saja yang bisa “melihatnya”. Mengapa sampai harus ditutupi? karena orang Arab pada saat itu tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian. Ya! Mereka hanya percaya satu kehidupan saja. Lah kalau hanya percaya satu kehidupan, lantas bagaimana mungkin Nabi harus menjelaskan reinkarnasi alias kehidupan yang berulang-ulang. Bisa jadi mereka malah tambah pusing dan semakin tidak percaya kepada Nabi. Dalam memberikan pelajaran kepada umatnya, Nabi tidaklah gegabah dengan memberikan pelajaran yang tidak sepatutnya atau belum saatnya diajarkan kepada semua orang.

Dalam suatu hadistnya, Nabi mengatakan : “Aku menerima dua macam pengetahuan dari Jibril, salah satu darinya kuajarkan kepada semua orang dan jika pengetahuan yang satunya kuajarkan kepada mereka tentu saja akan rusaklah kerongkongan mereka.” “Janganlah kamu memberikan ilmu bermanfaat kepada yang tidak memerlukannya, itu adalah perbuatan zalim, dan jangan kamu tidak memberikan kepada orang-orang yang memerlukannya, itupun zalim.”

Dari Hadist diatas jelaslah bahwa Nabi SAW memang berkompromi terhadap tingkat kecerdasan umatnya pada saat itu mengenai kehidupan setelah kematian. Nabi SAW tidak akan mengajarkan jika memang belum saatnya dibeberkan sebab akan membuat umatnya “tercekik kerongkongannya” alias bingung. Seandainya reinkarnasi dijelaskan secara terang-terangan maka dikhawatirkan umat malah bermalas-malasan dalam menuju kebaikan karena mereka berpendapat perilaku yang buruk nanti saja diperbaiki pada kehidupan-kehidupan mendatang.
Nah, besar kemungkinan, pengetahuan reinkarnasi ini diwariskan kepada para sahabatnya misalnya, Ali bin Abi Thalib, sebab Nabi pernah mengatakan : “Jika aku adalah gudang ilmu, maka Ali adalah pintu gerbangnya” Dari Sayidina Ali, pengetahuan ini kemudian menyebar melalui jalan sufi. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai tarekat atau kelompok tasawuf. Dan kelompok tasawuf inilah yang kemudian meneruskan penyebaran teori ini pada generasigenerasi selanjutnya. Dikarenakan reinkarnasi memang belum waktunya dibeberkan pada jaman Nabi SAW maka tentunya pengetahuan reinkarnasi diserahkan kepada umat atau generasi penerusnya dikemudian hari untuk dikaji atau diteliti lebih lanjut melalui melalui iqra terhadap ayat-ayat kitabiyah yakni Al Quran dan iqra terhadap ayat-ayat kauniyah (alam semesta) yakni berupa penyelidikan terhadap kasus-kasus reikarnasi yang muncul. Justru disinilah fungsi manusia sebagai Khalifah (wakil) Tuhan untuk meneruskan mengkaji Al Quran secara di segala jaman agar pengetahuan –spiritual-manusia bisa lebih maju dan berkembang. Lah, kalau segala sesuatu itu harus dijelaskan oleh Nabi SAW maka yang menjadi khalifah tentu Nabi SAW saja, padahal di Quran dijelaskan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi. Jadi tidak hanya Nabi saja yang menjadi khalifah melainkan juga manusia-manusia yang lain meski tidak semua manusia layak menjadi khalifah-Nya. Dan tentu usia nabi yang hanya 63 tahun tidak akan cukup menjelaskan semua tafsiran ayat Quran secara utuh dan mendalam. Hal ini penting untuk dipahami agar umat Islam tidak gampang membid'ahkan (mengatakan sesat) segala sesuatu yang dijaman Nabi tidak diungkapkan. Inilah yang menyebabkan kebekuan, kemunduran umat Islam hingga saat ini dikarenakan terlalu kaku menafsirkan ayat-ayat Quran atau Hadist.

FAKTA REINKARNASI

Reinkarnasi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bukanlah hanya kepercayaan atau keyakinan an sich tanpa didasari oleh fakta-fakta dalam kehidupan. Ya! Cukup banyak fakta yang dapat membuktikan adanya reinkarnasi. Dan telah banyak ilmuwan yang menulis buku-buku yang menjelaskan adanya reinkarnasi, diantaranya :
1. The Power Within (Dr. Alexander Cannon)
2. Twenty Cases Suggestive of Reincarnation (Dr. Ian Stevenson)
3. The Three Lives of Naomi Henry (Henry Blythe)
4. The Search for Bridey Murphy (Morey Berenstein)
5. Who was Anne Okendan ? (Arnoll Bloxom)
6. Exploration of a Hypnotist (Dr. Jonathan Rodney) Dr.Alexander Cannon dalam bukunya The Power Within mengatakan : “Selama bertahun-tahun teori reinkarnasi menjadi mimpi buruk bagi saya dan saya berjuang sekuat tenaga untuk membuktikannya, bahkan saya sampai berdebat dengan begitu banyak orang yang saya hipnotis dalam penyelidikan teori ini. Tahun demi tahun berlalu dan satu demi satu subjek menceritakan pada saya kisah-kisah sejenis meski mereka berasal dari berbagai agama dan latar belakang yang berbeda. Hingga kini lebih dari seribu kasus telah diselidiki dan kini saya telah mengakui kebenaran adanya reinkarnasi”

Dr. Ian Stevenson juga pernah menyelidiki kasus-kasus reinkarnasi, melalui bukunya Twenty Cases Suggestive of Reincarnation, ia menyatakan bahwa penyelidikannya selama bertahun-tahun mengenai reinkarnasi telah membuatnya yakin akan adanya “kehidupan setelah kematian”. Sampai kini ia telah menyelidiki 1.200 kasus yang berasal dari India, Sri Langka, Thailand, Myanmar, Turki, Syria dan Lebanon. Kebanyakan kasus yang ditangani adalah anak-anak. Stevenson mengatakan bahwa reinkarnasi bukanlah tahayul melainkan fakta kehidupan.

Dalam beberapa kasus tanda-tanda bawaan lahir seperti tahi lalat, kutil, bekas luka bacok, atau tertembak terkadang bahkan dapat muncul kembali. Sebenarnya satu kasus saja yang telah dibuktikan melalui metode penelitian yang ilmiah, sudahlah cukup bagi mereka yang cerdas untuk menerima adanya reinkarnasi. Berikut ini akan kita ungkapkan kasus-kasus reinkarnasi yang cukup populer.

1. Kasus Gnanatillaka Gnanatillaka lahir pada 14 Februari 1956 di kotamale, Sri Langka. Kasus ini bermula pada tahun 1960 ketika dia baru berusia empat tahun. Saat itu dia mengatakan “Aku ingin bertemu ayah-ibuku”. Padahal orang tuanya ada disampingnya sehingga ibunya berkata “Kami adalah orang tuamu”. “Bukan!”, bantah Gnanatillaka. “Aku ingin melihat ibu dan ayahku yang sebenarnya. Aku tahu dimana mereka tinggal. Tolong bawa aku kesana” Akhirnya Gnanatillaka menjelaskan rute yang harus ditempuh untuk menemui orang tua “asli”nya. Ternyata rumah yang dimaksud berada di perkebunan teh di Talawakele, sekitar tiga puluh mil dari tempat tinggal mereka. Akhirnya kedua orang tua Gnanatillaka mengabarkan keanehan ini pada orang-orang dan beberapa profesor dari Universitas Ceylon dan YM Piyadassi Maha Thera datang untuk menyelidiknya. Mereka mendengarkan uraian Gnanatillaka yang mengaku dulunya adalah seorang anak laki bernama Tilakaratna.
Setelah merekam semua pernyataan Gnanatillaka kemudian para peneliti mengajak Gnanatillaka mendatangi rumah yang dimaksud. Gnanatillaka belum pernah mendatangi rumah yang dimaksud pada kehidupannya saat ini. Begitu pula kedua keluarganya tidak memiliki hubungan apapun satu sama lain. Tidak saling mengenal satu sama lain. Ketika sampai ditempat tujuan, Gnanatillaka memperkenalkan para profesor kepada tuan rumah. “Ini ayahku yang sebenarnya dan ini ibuku”. Kemudian dia mengenalkan adik dan kakaknya dan menyebut nama tiap saudaranya dengan tepat. Kedua orang tua lampaunya diwawancarai dengan menggambarkan perangai dan kebiasaan anak laki-laki mereka yang telah meninggal 9 November 1954. Pada saat Gnanatillaka melihat adik lampaunya, ia menghindar dan menolak berbicara dengannya. Selanjutnya kedua orang tua lampaunya itu menjelaskan bahwa kedua anak itu sering bertengkar dan berkelahi. Nampaknya alam bawah sadar Gnanatillaka masih menyimpan dendam masa lalunya.
Ketika kepala sekolah setempat mendengar cerita ini, dia pergi ke rumah itu untuk menyaksikannya sendiri. Saat dia memasuki rumah, Gnanatillaka memperkenalkannya sebagai gurunya. Bahkan dia mampu mengingat pelajaran dan pekerjaan rumah yang telah diberikan oleh gurunya semasa dia menjadi laki-laki pada kehidupan sebelumnya. Gnanatillaka juga mampu menunjukan kuburan tempat ia dimakamkan dulu. Kisah Gnanatillaka dengan cepat tersebar luas, seorang peneliti spesialis reinkarnasi, Dr.Ian Stevenson dari universitas Virginia terbang dari Amerika menuju Sri Langka untuk menyelidiki kasus ini. Dia mengomentari kasus ini sebagai salah satu kasus terbaik yang pernah ditanganinya. Kasus Gnanatillaka juga telah dibukukan dan diterbitkan dalam bahasa Sinhala di Sri Langka disertai foto-foto yang dikumpulkan sepanjang penyelidikan.
Bersambung....
(baca sambungannya, bagian ke 2 dalam blog ini juga)

  1. Bisa dipahami, manakala kita berani untuk membuka diri, berani untuk mengkaji kebenaran ini. bukankah TUHAN berperan disegala kejadian, dan maha berkehendak atas segalanya

  1. Saya telah membaca tulisan Bpk Jay ini sebelumnya dalam format dan domain khusus lainnya, jadi pada dasarnya saya sepakat dengan analisis tersebut. Kebenaran bersifat universal meski datang dari mulut keledai. Selamat mengkaji terus. Laba, Batam

  1. tolong buat yang punya blog. Hanya sekedar saran saja... tolong matikan fitur musik - radio otomatis di blog anda. Banyak orang sangat benci ketika mengunjungi laman web tiba-tiba ada musik otomatis menyala.
    Sayah sendiri yang awalnya tertarik dengan isinya, tapi karena kaget dengan suara radio otomatis, sayah jadi sangat malas dan enggan untuk melihat-lihat blog anda lagi.
    Bahkan postingan ini pun tidak jadi sayah baca, dan sayah mencari tulisan serupa di tempat lain yang tidak ada musik atau radio otomatisnya, agar saya bisa membaca dengan tenang. Sekian dan terima kasih. Sayah mau lanjut membaca tulisan serupa di tempat lain.

  1. Terimakasih saranya..
    Dan sudah di hapus auto radionya

  1. lalu bagaimana kaitannya dengan azab kubur ?
    atau dengan akhirat dmn jiwa2 mempertanggung jawabkan kelakuannya di dunia ?
    mohon pencerahan ....

  1. kenapa semua orang lahir tidak sama dalam maknah soisal dan ekonomi?
    ada yg lahir di tempat pelacuran dan tidak mengenal siapa ayahnya, ada yang lahir dalam keadaan buta, lumpuh dan cacat tangan, ada yg lahir dari keluarga soleh dan mampu...
    semuanya adalah karma dari kehidupan sebelumnya..
    azab kubur adalah bahasa mutasabihat, azab terpedih adalah ketika kita mati dan reinkarnasi menjadi binatang seperti tikus, kecoa dll...
    olehnya dalah hidup harus menemukan kesadaran..
    kesadaran adalah Kebenaran sejati akanhakikat hidup seseorang, dalam Islam dinamakan Makrifatullah..

    Hadist : Awaluddiin Makrifatullah ; awal beragama adalah mengenal Allah

    namun sayang banyak yang beragama hanya mengenal nama Allah, kebesaran Allah, namun tidak mengenal Nur Zat Allah

  1. Saya termasuk pengiman konsep reinkarnasi meskipun trlahir sbg manusia beragama samawi : islam-- yang secara formal/ populer tdk mengakui yang demikian, saya tergerak mengenal teori ini melalui pendekatan/bacaan2 kajian sains dan filsafat, dr sejak awal sy tdk mendoktrinkan agama apapun u/ meyakini ini, namun terasa sgt masuk di akal baik scra ilmiah(fisika kuatum) dan filosofis(ttg keadilan Tuhan)

Posting Komentar

Anda punya saran atau komentar..silahkan biar kita bisa berbagi. gunakan acount anonymous bila tak punya count google atau lainnya.

::: Narasi perjalanan menuju Tuhan :::
(Scr Narasi : Attar )
Luangkan waktu anda sejenak... Rilex dan tenang dalam damai lalu dengarkan alunan NARASI dibawah ini..... Pahami dengan hati dan Renungkan hikmahnya Semoga bermanfaat..........Tq.
.